Jika Indonesia Mengaktivasi Satu Pulau Saja, Singapura Rubuh!

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Arvindo Noviar

Penulis adalah Inisiator KOMBATAN (Korps Muda Benteng Kedaulatan).

INDONESIA adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dengan 17.380 pulau yang berdiri di persilangan dua samudra dan dua benua, dengan kekayaan sumber daya serta kedudukan geografis yang menentukan dalam perdagangan global.

Bangsa sebesar ini memiliki modal strategis untuk menjadi salah satu pusat kekuatan ekonomi maritim dunia. Bahkan, dengan mengoptimalkan satu pulau strategis saja, Indonesia berpotensi mengubah peta kekuatan ekonomi dan perdagangan di kawasan.

Pulau itu bernama Sabang. Gerbang barat Selat Malaka yang menghadap langsung Samudra Hindia, tempat arus perdagangan dan energi dunia bergerak menuju Asia. Dari posisi tersebut, Indonesia berpeluang membangun pusat perdagangan, logistik, industri, dan jasa maritim internasional yang mampu melayani kebutuhan kapal sebelum mencapai Singapura.

Berabad-abad kapal dunia melintasi perairan Nusantara. Sudah waktunya kekayaan dari perdagangan itu menghasilkan nilai tambah yang jauh lebih besar bagi bangsa Indonesia!

Baca Juga :  Kabinet Prabowo Dan Ujian Politik Hukum: Sah Secara Hukum Belum Tentu Efektif Secara Pemerintahan

Aktivasi Sabang merupakan langkah strategis untuk mengubah kedudukan geografis Indonesia menjadi kekuatan geoekonomi yang menentukan arah perdagangan kawasan. Mengapa kapal-kapal dari Samudra Hindia harus melanjutkan perjalanan hingga Singapura untuk memperoleh bahan bakar, perawatan, perbekalan, dan layanan logistik apabila seluruh kebutuhan tersebut dapat dipenuhi lebih awal, lebih cepat, dan lebih murah di Sabang?

Indonesia harus membangun pelabuhan laut dalam, pusat distribusi internasional, kawasan industri maritim, perdagangan bebas, serta jaringan keuangan dan logistik yang terintegrasi dengan kekuatan ekonomi nasional.

Agenda strategis ini memerlukan investasi besar, kepastian hukum, diplomasi ekonomi, dan pertahanan maritim yang tangguh. Dengan kekuatan wilayah, sumber daya, pasar domestik, dan kedudukan geografis yang dimilikinya, Indonesia mempunyai landasan untuk membentuk pusat gravitasi perdagangan baru di Indo-Pasifik.

“Sabang harus menjadi pangkalan kekuatan ekonomi nasional yang menarik arus modal, kapal, barang, dan industri dunia. Jika kekuatan itu diorganisasikan secara sungguh-sungguh, pusat-pusat perdagangan yang selama ini menikmati nilai ekonomi dari jalur maritim Nusantara akan menghadapi perubahan besar.”

Seluruh cita-cita besar itu mensyaratkan persatuan rakyat yang tidak mudah dipecah belah oleh propaganda dan kepentingan oligarki. Kedaulatan mencakup penguasaan wilayah, kekayaan nasional, serta kemandirian negara dalam menentukan arah politik dan ekonominya tanpa dikendalikan segelintir pemilik modal dan kekuasaan.

Baca Juga :  PJS Dan PWI Bateng Perkuat Sinergi Pers

Jika menghadapi oligarki lokal saja rakyat mudah diadu domba hingga kehilangan kesadaran atas kepentingannya sendiri, bagaimana Indonesia hendak berdiri sejajar dengan negara-negara adidaya dunia? Bangsa yang kekayaan dan keputusan strategisnya dikuasai segelintir orang akan terus menghadapi ancaman terhadap kedaulatannya, sekalipun memiliki wilayah luas dan sumber daya melimpah!

Bersatulah, rakyat Indonesia, rebut kembali kendali atas masa depan bangsa dan tegakkan kedaulatan di tangan rakyat!*

Berita Terkait

Paradoks Kekuasaan: Refleksi Dan Rekonstruksi Politik Hukum Dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran (2024–2026)
Kabinet Prabowo Dan Ujian Politik Hukum: Sah Secara Hukum Belum Tentu Efektif Secara Pemerintahan
KABINET GEMUK: APAKAH SEMAKIN BANYAK PEJABAT, SEMAKIN KUAT PEMERINTAHAN? (Bagian Pertama) 
PJS Dan PWI Bateng Perkuat Sinergi Pers
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:50 WIB

Jika Indonesia Mengaktivasi Satu Pulau Saja, Singapura Rubuh!

Selasa, 20 Oktober 2026 - 17:37 WIB

Paradoks Kekuasaan: Refleksi Dan Rekonstruksi Politik Hukum Dalam Dua Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran (2024–2026)

Minggu, 18 Oktober 2026 - 22:01 WIB

Kabinet Prabowo Dan Ujian Politik Hukum: Sah Secara Hukum Belum Tentu Efektif Secara Pemerintahan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:16 WIB

KABINET GEMUK: APAKAH SEMAKIN BANYAK PEJABAT, SEMAKIN KUAT PEMERINTAHAN? (Bagian Pertama) 

Jumat, 11 September 2026 - 00:58 WIB

PJS Dan PWI Bateng Perkuat Sinergi Pers

Berita Terbaru

Daerah

KWT di Pangkalpinang Kembangkan Sawi, Selada, dan Seledri

Minggu, 25 Okt 2026 - 16:33 WIB

Peristiwa

Topeng dan Badut di Bawah Lampu Tugu Golong Gilig

Jumat, 23 Okt 2026 - 20:12 WIB