YOGYAKARTA, jendelapersada.com — Situasi unjuk rasa di kawasan Gedung DPRD Provinsi DIY masih memanas hingga pukul 21.30 Wib malam ini. Massa gabungan menyatakan menolak membubarkan diri dan menegaskan akan terus bertahan di lokasi hingga seluruh anggota DPRD DIY turun menemui mereka secara langsung.
Berdasarkan laporan terbaru Kepala Biro jendelapersada.com Sleman, Yogyakarta, Al Habieb Sayyidina Maulana Ali, pihak dewan sejauh ini baru mengutus dua orang perwakilan untuk menemui massa. Hal tersebut memicu kekecewaan mendalam karena dinilai belum mewakili institusi legislatif secara keseluruhan.
Akibat rasa tidak puas tersebut, ketegangan di lapangan kembali meningkat. Massa mendesak agar seluruh pimpinan dan anggota dewan mau keluar menemui mereka secara terbuka untuk mendengarkan langsung poin-poin tuntutan aksi. Dalam unjuk rasa ini, mahasiswa membawa sejumlah tuntutan utama, antara lain:
* Evaluasi total penanggulangan Karhutla dan percepat pemulihan masyarakat terdampak.
* Moratorium, evaluasi, dan transparansi program strategis nasional terutama MBG dan KDMP.
* Menuntut regulasi pengadaan, tata kelola, dan transparansi BBM bersubsidi di setiap daerah di Indonesia.
* Menuntut perbaikan pola komunikasi pemerintah, terutama komunikasi Presiden yang kerap merendahkan rakyat.
* Restrukturisasi dan perampingan kabinet gemuk demi efisiensi birokrasi dan anggaran negara, serta penetapan Karhutla sebagai bencana nasional.
* Hentikan militerisme dalam berbagai bentuk, terutama pelibatan militer di ranah sipil.
* Tegakkan proses peradilan HAM bagi 13 peristiwa pelanggaran HAM berat masa lalu.
Di tengah orasinya, massa aksi terpantau masih terus memaksa untuk merangsek masuk ke dalam area Gedung DPRD DIY. Kendati demikian, barikade aparat kepolisian dengan perlengkapan pengamanan lengkap masih bertahan ketat di depan pintu masuk utama guna menghalau pergerakan massa.
Hingga berita ini ditulis, massa gabungan masih berkumpul di sekitar Gedung DPRD DIY sambil terus melontarkan desakan. Aparat keamanan tetap disiagakan secara intensif di lokasi guna mengantisipasi eskalasi massa lebih lanjut.









