BANGKA TENGAH, jendelapersada.com – Peningkatan kesiapsiagaan dan pemahaman mengenai jalur evakuasi menjadi bagian penting dalam upaya membangun masyarakat pesisir yang tangguh menghadapi bencana.
“Masyarakat di kawasan rawan bencana perlu memahami langkah mitigasi jalur evakuasi agar mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, ” ungkap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bangka Belitung, Agus Afandi ST MT, pada Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Rawan Bencana di Pantai Telapak Antu, Desa Batu Belubang, Kecamatan Pangkalan Baru, Bangka Tengah, Kamis (29/10/2026).
Pemahaman mengenai jalur evakuasi, kata dia, menjadi hal penting agar masyarakat tidak kebingungan menentukan arah penyelamatan ketika menghadapi situasi darurat.
Agus menyebutkan sejumlah ancaman bencana di Bangka Belitung meliputi banjir, gelombang tinggi, angin puting beliung, abrasi, serta kebakaran hutan dan lahan. Hujan dengan intensitas tinggi juga berpotensi menimbulkan bahaya petir.
Berdasarkan peta bencana yang disampaikan dalam sosialisasi, Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Tengah, dan Belitung Timur memiliki potensi karhutla tinggi. Karena itu, Agus mengajak masyarakat menjaga lingkungan dan meningkatkan kepedulian terhadap risiko bencana di wilayah masing-masing.
Dalam hal kesiapsiagaan, BPBD Babel mengacu pada informasi peringatan dini cuaca, terutama untuk mengantisipasi gelombang tinggi dan angin kencang. Penanganan kebencanaan juga mencakup tahapan siaga, tanggap darurat, hingga penanganan pascabencana.
Pentingnya edukasi kebencanaan juga dirasakan masyarakat Desa Batu Belubang. Kepala Desa Batu Belubang, Ahirman, mengapresiasi kegiatan tersebut karena dapat menambah pengetahuan dan wawasan warga pesisir mengenai mitigasi bencana.
Menurut Ahirman, banjir rob dan abrasi kerap melanda kawasan pesisir desa, terutama saat musim angin utara. Banjir rob yang rutin terjadi pada penghujung tahun dapat merendam permukiman warga nelayan, sedangkan abrasi mengancam kawasan Pantai Telapak Antu dan bangunan rumah warga.
“Cuaca ekstrem dan gelombang tinggi pada musim tersebut juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi nelayan karena mereka tidak dapat melaut, ” ujar Kades Ahirman.
Ahirman berharap dari sosialisasi tersebut masyarakat pesisir lebih memahami ancaman bencana, mengenali langkah mitigasi, dan meningkatkan kesiapsiagaan.

Sebagai bagian dari kegiatan, BPBD Babel membagikan jaket pelampung kepada warga pesisir untuk mengantisipasi risiko saat beraktivitas, termasuk ketika nelayan melaut.
Sosialisasi turut membahas Peran Keluarga Pesisir dalam Membangun Ketangguhan Bencana. Materi tersebut disampaikan Amin Kurniawan dari Kantor BKKBN, yang juga merupakan pengurus Tim Penggerak PKK Provinsi Babel. Selain itu disampaikan juga materi tentang tindak kegawatdaruratan terhadap korban tenggelam, hingga penanganan awal, pencarian dan pertolongan dalam bencana.
Kegiatan diikuti masyarakat nelayan, ibu nelayan, tokoh masyarakat pesisir, pemerintah desa, Ketua BPD, Babinsa, Bhabin Potmal, Bhabinkamtibmas, seluruh ketua RT, serta PKK Desa Batu Belubang. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari momentum peringatan Hari Jadi ke-26 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada 21 November 2026. (*/red)







