Zed Melawan Lupa di Tengah Kepungan Sawit: Aren, Jalan Pulang ke Kelekak

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 1 Desember 2025 - 01:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebuah jurnalisme sastra Belva Alkhab, ST

BANGKA, jendelapersada.com — Pagi itu, Sabtu di akhir November 2025, Desa Zed terasa seperti baru saja menarik napas dalam-dalam setelah sekian lama menahan diri. Kabut tipis—seperti selimut putih yang diangkat perlahan—bangkit dari lembah-lembah kelekak, pekarangan hutan campuran yang dulunya adalah paru-paru dan rumah pengetahuan bagi masyarakat Melayu Bangka.

Namun, di balik keheningan yang tersisa, ada denyut asing: riak suara warga yang mulai mengalir ke halaman kantor desa, mencari jawaban, atau mungkin, sekadar memegang kembali potongan sejarah yang mereka yakini telah hilang. Di antara barisan kursi plastik dan meja panjang yang disiapkan seadanya, sebuah ritual kebangkitan sedang dimulai.

Di luar, aroma getah sawit yang masam mungkin masih dominan, tetapi di halaman desa ini, udara dipenuhi dengan harapan, nostalgia, dan bau manis nira kering yang diletakkan sebagai contoh edukasi—sebuah janji yang dibawa oleh pohon yang lama diabaikan: Aren, sang simbol peradaban yang kini datang sebagai penyelamat.

Di depan mereka, ada juga cangkul, dan bibit Aren, benda-benda sederhana yang bagi Kepala Desa Mat Amin dan warganya, adalah artefak peradaban yang lama diabaikan. Ini bukan sekadar sosialisasi; ini adalah ritual kolektif untuk menemukan kembali Jalan Pulang ke Kelekak, sebuah jalan yang ternyata selalu ada, tersembunyi dalam biji pohon Aren, di tengah kepungan sawit yang kian menyesakkan. Pertarungan identitas ekologis Desa Zed baru saja dimulai.

Luka Lama

Mat Amin, Kepala Desa Zed, memulai percakapan dengan nada getir yang disimpan lama. Ia berdiri, dengan tatapan menerawang ke barisan kebun sawit di kejauhan. Wawancaranya disela hiruk-pikuk persiapan; suaranya terdengar seperti seseorang yang tengah mengisahkan sebuah kehilangan besar. Ia adalah orang yang paling merasakan luka ekologis itu. Ucapannya bukan sekadar pidato birokrat, melainkan pengakuan jujur seorang anak kampung yang menyaksikan kampungnya berubah.

“Kelekak itu dulu banyak sekali di Kampung Zed. Di belakang rumah warga, di tepi sungai, di batas ladang, di banyak tempat. Tetapi sekarang… banyak yang hilang,” ujarnya pelan, pandangannya tertuju pada barisan rumah yang kini lebih banyak dikelilingi kebun sawit.

Bagi generasi tua, kelekak adalah matriks hidup. Di sana ada aren, kabung, pinang, durian. Ia adalah bank genetik lokal, sumur air tanah. Hilangnya kelekak berarti hilangnya burung-burung kecil yang dulu hinggap di pucuk aren saat berbunga. Hilangnya keragaman. Hilangnya identitas.

“Kelekak yang masih hidup hanya ada di beberapa titik saja. Itu pun tidak terawat, seakan-akan menunggu putusan akhir,” ia menambahkan, sebuah kalimat yang terasa seperti desahan terakhir. Namun hari itu, Amin tahu, nasib telah diputuskan untuk dibalik.

Pesan dari Alam

Di hadapan masyarakat, Muhammad Irsan dari Yayasan CIS mengambil posisi dengan suara lantang, membawa energi seorang aktivis yang mencintai tanahnya. Ia tidak menjual program, ia menjual kenangan.

“Menanami kembali tanaman zaman dulu akrab dengan kita. Tanaman yang lambat laun mulai tergerus dari generasi. Tapi ia tidak pernah hilang, kita saja yang berhenti melihatnya,” ujarnya, seolah menyalahkan lupa yang terlanjur menjangkiti.

Baca Juga :  Waspada! Produksi Padi Babel Diperkirakan Anjlok 18,73% di Tahun 2025

Irsan kemudian mengangkat bunga aren yang ia bawa, lalu memperkenalkan kawan lama yang juga terlupakan: Madu Kelulut Trigona.

“Tanaman aren sangat menyengat aromanya ketika berbunga. Madu kelulut trigona sangat tertarik dengan bunga itu. Sebenarnya, kelekak adalah rumah bagi madu-madu itu.”

Seketika, warga Zed disadarkan. Hilangnya pohon aren, berarti hilangnya bunga. Hilangnya bunga, berarti hilangnya lebah, dan hilangnya madu obat. Itu bukan tiga masalah berbeda; itu adalah satu ekosistem yang diruntuhkan. Mata warga mulai berbinar. Mereka menyadari, harta karun yang mereka cari selama ini tersembunyi dalam interkoneksi alam yang mereka lupakan.

“Aren itu bukan hanya kayu atau pohon tinggi. Ia sumber hilirisasi: gula aren, air nira, madu, bahkan energi. Pekarangan kita bisa hijau kembali kalau kita tanami aren. Mari kita kuatkan kembali ekonomi dan ekologinya,” kata Irsan, merangkai sebuah visi masa depan yang terintegrasi.

Aren Hilang, Penyadap pun Hilang

Dari barisan kursi, Nurul Ichsan, S.T., M.Si., peneliti pada Bappeda Provinsi Babel, hadir dan berbicara tentang kerentanan: ketergantungan pada satu komoditas, sawit, yang membuat pendapatan masyarakat bagai ombak—kadang naik, seringnya turun.

“Kami dari (pemerintah) provinsi mencari nilai ekonomi alternatif. Salah satunya adalah pengolahan tanaman kelekak yaitu aren,” katanya, menjelaskan bahwa penelitian menunjukkan Aren memiliki dua kekuatan: ekonomi yang jelas, dan ekologi yang jauh melampaui perkiraan.

Namun, birokrasi itu juga membawa realitas yang pahit. “Tantangan terbesar bukan pada pasar. Pasarnya besar sekali. Tantangannya adalah: tanaman aren yang akan disadap sudah tidak ada. Dan penyadapnya pun hampir hilang.”

Desa Zed, seperti banyak desa lain di Bangka Belitung, telah kehabisan pohon dan kehabisan tangan yang terampil. Sosialisasi ini, kata Ichsan, untuk sharing, sosialisasi, dan edukasi, dan mengetahui apa yang harus dikembangkan. Data dari desalah yang menentukan program mana yang tepat untuk masyarakat.

“Kami ingin program dari pusat turun tepat sasaran: ekonomi, ekologi, dan sosial. Aren adalah pintu ke arah itu,” tutupnya, menyerahkan kunci pintu itu kepada masyarakat.

Tanaman Para Raja

Di sesi paling memikat, hadir Dr. Slamet Wahyudi, S.Pd., M.Si., seorang akademisi yang bertutur kata seolah ia membacakan prasasti kuno. Ia membawa Aren jauh melampaui perkebunan, membawanya ke ranah sejarah.

“Tanaman aren sudah disebutkan dalam Prasasti Talang Tuo. Aren, kelapa, dan pinang digunakan sebagai taman penyambut tamu raja. Ia tanaman kerajaan. Tanaman peradaban.”

Keheningan menyelimuti halaman desa. Warga, bahkan yang termuda, menoleh. Slamet menjelaskan Aren bukan sekadar pohon, melainkan arsitektur alam: “Tanaman aren itu pasak bumi. Akarnya mencegah kelongsoran. Contoh kasus longsor di Banjarnegara, daerah yang pohon arennya ditebang habis. Setelahnya, tanah tidak lagi punya pegangan.”

Sosialisasi ini, tiba-tiba, menjadi soal keselamatan ruang hidup.
Di sisi ekonomi, Slamet membuka fakta yang menggugah: “Aren bisa panen setiap hari. Berbeda dengan sawit. Hari ini disadap, besok keluar lagi. Ia tidak pernah berhenti memberi.”

Baca Juga :  Waspada! Produksi Padi Babel Diperkirakan Anjlok 18,73% di Tahun 2025

Selama ini, warga hanya melihat satu gerbang ekonomi. Slamet menunjukkan bahwa ada banyak pintu: ketahanan energi (Ethanol), ketahanan pangan (tepung aren, beras imitasi), dan industri hilir yang tak terbatas.

Puncak sesi adalah demonstrasi praktis. Dr. Slamet memimpin pelatihan membuat bibit, memegang biji, membuka tanah humus, menunjukkan teknik penyemaian lembab. Warga mengerumuni, mencatat, dan mengambil gambar seolah menyaksikan sulap.

“Jangan takut menanam aren. Ia tidak rumit. Media tanamnya sederhana. Yang rumit adalah niat kita untuk memulai.”

Sesi pelatihan praktis mengubah kantor desa menjadi bengkel harapan. Warga, tua dan muda, mulai berseru spontan. “Kalau begini caranya, kami bisa bikin bibit ramai-ramai, Pak!” seru seorang bapak. “Kalau bisa panen tiap hari, kenapa kita tidak tanam dari dulu?”

Dr. Slamet menjawab dengan kalimat yang membakar komitmen: “Bangka Belitung punya masa depan besar lewat aren. Kalian adalah penjaga mata air itu. Bukan kami dari luar.”

Suara tepuk tangan menggema.

Antusiasme itu nyata. Seorang bapak paruh baya yang tadinya skeptis kini menyampaikan pengakuannya: “Dulu kami lihat aren hanya pohon liar. Sekarang kami tahu ini pohon masa depan.”

Seorang ibu rumah tangga melihat potensi penghasilan ganda. “Kalau dari aren bisa dapat gula, madu, nira, tepung, bahkan energi… berarti kami bisa punya banyak sumber pendapatan.”

Kepala Desa Mat Amin, yang tadinya memulai dengan nada getir, kini tersenyum bangga. “Ini baru awal. Masyarakat Zed siap ikut program penanaman aren.”

Jalan Pulang ke Kelekak

Setelah lebih dari tiga jam sosialisasi, pelatihan, diskusi mendalam, dan proses kolektif penemuan kembali, satu kesimpulan muncul mengalir alami di Desa Zed:
Aren bukan sekadar tanaman. Aren adalah peradaban. Aren adalah masa depan.

Seluruh narasumber sepakat: aren adalah tanaman yang tidak pernah ingkar pada alam. Ia memberi tanpa meminta banyak, menjaga tanah dari longsor, memberi madu, gula, nira, bahkan energi dan pangan. Ia adalah tanaman harapan. Bukan sawit yang harus dibenci, melainkan aren yang harus diangkat martabatnya.

Di era krisis iklim, kerusakan tanah, dan ketergantungan yang menyakitkan, Desa Zed kini menunjuk sebuah jalan pulang. Jalan itu sederhana, namun revolusioner: menanam aren. Menghidupkan kelekak. Menghidupkan masa depan.

Di akhir acara, semua peserta berdiri bersama, memegang erat bibit aren kecil yang baru disemai, sebuah janji yang tertanam di genggaman tangan mereka. Mereka berfoto, bukan sekadar untuk mendokumentasikan sebuah acara, tetapi untuk merekam momen kebangkitan ekologi Bangka Belitung. Di tengah kepungan sawit, Desa Zed telah menemukan jati diri ekologisnya, membuktikan bahwa melawan lupa adalah langkah pertama untuk kembali ke rumah. Aren adalah Jalan Pulang ke Kelekak.*

Berita Terkait

Waspada! Produksi Padi Babel Diperkirakan Anjlok 18,73% di Tahun 2025
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Desember 2025 - 01:05 WIB

Zed Melawan Lupa di Tengah Kepungan Sawit: Aren, Jalan Pulang ke Kelekak

Senin, 3 November 2025 - 15:18 WIB

Waspada! Produksi Padi Babel Diperkirakan Anjlok 18,73% di Tahun 2025

Berita Terbaru