Pangkalpinang, Jendelapersada.com— Gedung DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung setiap hari dipenuhi aktivitas. Rapat, audiensi, penyampaian aspirasi masyarakat hingga berbagai agenda pemerintahan berlangsung dalam satu lingkungan yang sama.
Namun ada satu persoalan yang kerap luput dari perhatian: seberapa siap lingkungan gedung parlemen menghadapi keadaan darurat ketika kesehatan seseorang tiba-tiba berada dalam kondisi kritis?
Pertanyaan itu kembali mencuat setelah Sekretariat DPRD Babel bersama Fakultas Kedokteran Universitas Bangka Belitung (FK UBB) menggelar pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD), Rabu (23/9/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-3 UBB tersebut tidak hanya mengajarkan teknik pertolongan pertama. Lebih jauh, BHD membuka pembicaraan mengenai kesiapsiagaan sebuah institusi publik ketika menghadapi situasi yang tidak dapat diprediksi.
Sebab orang yang mengalami kegawatdaruratan tidak selalu berasal dari lingkungan internal kantor. Bisa saja pegawai, anggota DPRD, tamu, masyarakat yang datang menyampaikan aspirasi, tenaga ahli maupun peserta kegiatan lainnya.
Dalam kondisi seperti itu, orang pertama yang berada di lokasi belum tentu seorang dokter atau tenaga kesehatan.
Dosen FK UBB Dr. Rosalin, Sp.PD, mengatakan keterampilan BHD perlu dimiliki lebih luas karena siapa pun yang berada di lokasi dapat menjadi penolong pertama.
“Keterampilan Bantuan Hidup Dasar bukan hanya milik tenaga kesehatan. Dalam kondisi henti jantung, siapa pun yang berada di lokasi dapat menjadi penolong pertama yang menentukan peluang keselamatan seseorang,” ujarnya.
Karena itu, pelatihan BHD dapat menjadi momentum untuk melihat kesiapan keselamatan di lingkungan DPRD secara lebih luas.
Bukan hanya soal siapa yang pernah mengikuti pelatihan, tetapi juga apakah tersedia peralatan pertolongan pertama, apakah terdapat petugas yang siap menjadi first responder, bagaimana prosedur ketika terjadi keadaan darurat, serta apakah simulasi dilakukan secara berkala.
Sekretaris DPRD Babel Dedy Apriandy menyebut penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam kesiapsiagaan tersebut.
“Investasi terbaik sebuah institusi bukan hanya pada sarana dan prasarana, tetapi juga pada kapasitas sumber daya manusianya. Melalui pelatihan Bantuan Hidup Dasar, kami berharap setiap pegawai memiliki kesiapsiagaan untuk melindungi dan menolong sesama saat kondisi darurat,” katanya.
Di sisi lain, pelatihan ini juga mengingatkan bahwa keselamatan di gedung publik tidak cukup hanya mengandalkan kehadiran tenaga medis.
Ketika keadaan darurat terjadi, jarak beberapa menit sebelum bantuan medis tiba bisa menjadi persoalan besar.
Maka tantangannya bukan berhenti pada pelatihan BHD. Pertanyaannya adalah apakah pengetahuan tersebut akan diterjemahkan menjadi sistem keselamatan yang benar-benar siap digunakan kapan pun keadaan darurat terjadi.
Dari gedung parlemen, pesan itu menjadi sederhana: keselamatan manusia harus tetap menjadi prioritas, bahkan ketika seluruh aktivitas di dalamnya sedang berbicara tentang politik, kebijakan dan kepentingan publik.
Penulis : Iky
Editor : Iky
Sumber Berita: Media Trasberita









