JAKARTA, jendelapersada.com– Pidato aktivis kemanusiaan Indonesia sekaligus Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 8 Oktober lalu, dinilai telah mewakili suara masyarakat dunia yang menjadi korban konflik dan kekerasan.
Penilaian tersebut disampaikan oleh Ketua Aliansi Anak Bangsa (AAB), Damai Hari Lubis. Menurutnya, Wilson berhasil mengangkat isu pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di banyak negara.
“Meskipun waktu yang diberikan panitia sangat singkat, Wilson berhasil menyampaikan pesan substantif dengan cara yang arif, elegan, dan menyentuh nurani kemanusiaan,” ujar Damai Hari Lubis (DHL) di Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Pria yang juga dikenal sebagai Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik) itu menegaskan bahwa Wilson berbicara tidak hanya untuk satu bangsa, tetapi atas nama seluruh umat manusia.
DHL juga mendukung desakan agar PBB bertindak proaktif.
“PBB, sebagai lembaga dunia yang dipercaya memiliki data lengkap mengenai pelanggaran HAM global, tidak boleh berhenti pada pengumpulan dokumen semata,” tegas jurnalis senior tersebut, dalam rilis yang diterima redaksi, Rabu.
Wilson, lanjut DHL, telah menunjukkan sikap moral dengan menyerukan agar PBB lebih fokus dan intensif dalam menangani serta mencegah kejahatan kemanusiaan yang terjadi akibat kelalaian negara-negara di dunia.

Wilson Lalengke diketahui berbicara dalam kapasitasnya sebagai petisioner di Konferensi Komite Keempat PBB di New York, yang menyoroti konflik Sahara antara Maroko dan Aljazair.
Dia mengangkat isu-isu hak asasi manusia global dalam pidatonya di hadapan Komite Keempat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, pada 8 Oktober 2025, seperti berbagai persoalan serius, mulai dari pembunuhan di luar hukum (extrajudicial killing), penyiksaan, hingga pembiaran terhadap kesengsaraan massal.
Secara khusus, ia menyoroti konflik panjang antara Maroko dan Aljazair terkait Kelompok Polisario. Menurutnya, konflik ini telah menimbulkan penderitaan mendalam bagi masyarakat suku Sahrawi.
Wilson memaparkan data bahwa tidak kurang dari 170.000 orang kini hidup sebagai pengungsi di kamp-kamp Tindouf. Ia merinci kondisi para pengungsi yang menghadapi kekurangan makanan, sulitnya air bersih, minimnya layanan kesehatan, dan ketiadaan akses pendidikan yang layak.
Dalam pidatonya, Wilson mendesak PBB untuk tidak hanya berhenti pada pengumpulan dokumen pelanggaran HAM.
“PBB harus bertindak nyata, proaktif membantu korban, dan mencegah bertambahnya korban dari segala bentuk kekerasan,” ujarnya, sebagaimana dikutip DHL. */ima
Penulis : Tim
Editor : Ima
Sumber Berita: DPN PPWI









