Kemendikdasmen Jadikan Permainan Tradisional Ujung Tombak Pendidikan Karakter PAUD

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 19 Oktober 2025 - 01:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SERANG, jendelapersada.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjadikan permainan tradisional sebagai salah satu upaya utama dalam penguatan pendidikan karakter murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Inisiatif ini diwujudkan melalui “Kampanye Anak Indonesia Hebat” yang digelar di Kota Serang, Banten, baru-baru ini.

Direktur PAUD Kemendikdasmen, Nia Nurhasanah, menyatakan kegiatan ini merupakan bagian dari partisipasi semesta untuk memperkuat pendidikan karakter dan menyukseskan wajib belajar satu tahun pra sekolah.

“Ini merupakan langkah bersama menguatkan sinergi dan kolaborasi mulai dari pemangku kepentingan pendidikan di daerah, satuan pendidikan, pendidikan, orang tua, hingga masyarakat untuk membangun ekosistem PAUD yang menyenangkan serta upaya mempersiapkan generasi emas 2045,” ungkap Nia melalui keterangan resmi yang diterima redaksi, Sabtu (18/10/2025).

Menurut Nia, permainan tradisional seperti bola bekel, gasing, dan engklek adalah bagian penting dari implementasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

Dalam kampanye tersebut, berbagai permainan tradisional dihadirkan, antara lain patheng dudu, oray-orayan, rorodaan, serta merakit dan mewarnai layang-layang.

Baca Juga :  Lepas 69 Guru Umrah VIP, Wali Kota Pangkalpinang: Ini Perjalanan Ibadah, Bukan Sekadar Jalan-Jalan

Wakil Sekretaris Jenderal Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI), Chaerul Umam, mengatakan permainan tradisional memiliki peran krusial dalam menanamkan nilai kearifan lokal sekaligus melatih rasa tanggung jawab pada anak usia dini.

Ditambahkan, permainan tradisional berkorelasi erat dengan poin “bermain dan bermasyarakat” dalam 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Menurutnya, permainan ini memberi pengalaman langsung bagi anak untuk belajar fokus dan memahami peraturan.

“Permainan tradisional memberi pengalaman lebih kepada anak-anak untuk mampu belajar fokus, memiliki rasa tanggungjawab, serta menaruh rasa kearifan lokal dari makna permainan tradisional tersebut,” ujar Umam.

Umam menambahkan, inisiatif yang didukung Kemendikdasmen ini juga menjadi upaya regenerasi pelestarian permainan rakyat. Ia berharap setiap PAUD dan Kelompok Bermain memiliki “Pojok Permainan Tradisional” sebagai media pembelajaran tambahan untuk melatih motorik anak.

Sementara itu, para pendidik menilai kehadiran permainan tradisional dalam pembelajaran anak usia dini sangat efektif untuk membangun komunikasi sosial dan emosional anak di tengah gempuran teknologi digital.

Baca Juga :  Jutaan Siswa Tembus Hari Pertama TKA! Kemendikdasmen Klaim Tes Berjalan Mulus

Kepala TK Roudhoh, Aliyah, mengatakan permainan tradisional sangat membantu pengajar mengenalkan nilai moral dan budaya daerah. Bahkan menurutnya permainan tradisional yang dihadirkan dalam acara ini juga bermanfaat membangun komunikasi sosial dan emosi anak di tengah gempuran teknologi digital.

“Anak-anak kami antusias mengikuti beberapa permainan ini, mereka juga sudah terbiasa karena di sekolah kami kenalkan permainan lompat tali dan engkle. Semoga dengan adanya permainan tradisional ini anak-anak terbangun rasa sosial yang tinggi serta memiliki rasa nasionalisme yang tumbuh melalui nilai budaya,” terang Aliyah.

Hal senada diungkapkan Kepala TK Negeri Pembina, Eva Syarifatunia. Menurutnya, permainan tradisional membantu menstimulasi perkembangan bahasa dan motorik anak didiknya secara menyenangkan dan tidak membosankan.

“Permainannya tradisional membuat anak-anak kami antusias mengikuti acara dan membuat mereka tidak bosan. Semoga anak-anak memiliki pengalaman baik untuk dirinya,” tutup Eva. */ima

Penulis : Ima

Editor : Ima

Sumber Berita: Biro Komunikasi dan Humas Setjen Kemdikdasmen

Berita Terkait

Bukan Buahnya, Kulit Pisang Ambon Kini Diolah Jadi Permen Soft Candy, Upaya Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi
Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang Bekali Kader Posyandu, Jahe dan Serai Ternyata Bisa Jadi Produk Bernilai Jual
Dishub Pangkalpinang Sosialisasi Smart Parking di SMADA, Dorong Pelajar Jadi Pelopor Digitalisasi
Revitalisasi 214 Sekolah di Papua Telan Anggaran Lebih dari Rp 208 Miliar, Libatkan 2.821 Pekerja Lokal
Menteri Abdul Mu’ti Harap Revitalisasi Sekolah di Papua Tingkatkan Semangat Belajar
Bukan Sekadar Gizi, Lazismu Babel Bidik Stunting Lewat Air Bersih
Imam Wahyudi Sambangi Thoriq, Bocah 11 Tahun yang Hafal 30 Juz Alquran
SALUT Mega Cendekia Dorong Mahasiswa Aktif Kembangkan Potensi
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 20:19 WIB

Bukan Buahnya, Kulit Pisang Ambon Kini Diolah Jadi Permen Soft Candy, Upaya Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi

Senin, 2 November 2026 - 21:13 WIB

Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang Bekali Kader Posyandu, Jahe dan Serai Ternyata Bisa Jadi Produk Bernilai Jual

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:03 WIB

Dishub Pangkalpinang Sosialisasi Smart Parking di SMADA, Dorong Pelajar Jadi Pelopor Digitalisasi

Selasa, 20 Oktober 2026 - 15:28 WIB

Revitalisasi 214 Sekolah di Papua Telan Anggaran Lebih dari Rp 208 Miliar, Libatkan 2.821 Pekerja Lokal

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:16 WIB

Menteri Abdul Mu’ti Harap Revitalisasi Sekolah di Papua Tingkatkan Semangat Belajar

Berita Terbaru