JAKARTA, jendelapersada.com — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi memasukkan mata pelajaran coding dan kecerdasan buatan (AI) sebagai mata pelajaran pilihan yang dapat diikuti siswa sejak kelas 5 Sekolah Dasar (SD).
Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Kemendikdasmen untuk membekali generasi muda dengan literasi digital dan etika penggunaan teknologi, sejalan dengan tema “Rebuilding Social Trust in a Digital World” dalam Konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (ICCCRL) di Jakarta, Selasa (11/11).
Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikdasmen, Laksmi Dewi, menjelaskan bahwa penggunaan teknologi, termasuk AI, sangat penting sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran. Namun, ia menekankan perlunya literasi digital sebagai fondasi, yang mencakup kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, mengkreasikan, dan mengomunikasikan informasi secara bertanggung jawab.
“Literasi digital ini menjadi salah satu poin penting untuk menumbuhkan kepercayaan sosial dengan informasi-informasi yang disampaikan,” ujar Laksmi dalam diskusi panel tersebut.
Penerapan kurikulum teknologi ini mencakup dua mata pelajaran utama. Selain coding dan AI yang bersifat pilihan sejak kelas 5 SD, Kemendikdasmen juga mewajibkan mata pelajaran Informatika bagi seluruh siswa dari kelas 7 (SMP) hingga 12 (SMA/SMK).
Program ini dirancang untuk memastikan setiap anak memiliki pemahaman dasar tentang teknologi digital, termasuk etika penggunaannya. Kemendikdasmen juga telah menyiapkan berbagai panduan terkait penerapan literasi digital, termasuk panduan khusus untuk mata pelajaran informatika, coding dan AI, serta pemanfaatan AI bagi guru dan murid.

Dalam diskusi yang sama, Ismunandar, Staf Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian Kebudayaan sekaligus Head of Adviser Day of AI Indonesia, menyoroti urgensi literasi terkait AI dan media sosial bagi seluruh masyarakat. Menurutnya, literasi digital adalah keharusan agar masyarakat dapat menggunakan teknologi secara kritis.
Ia menyebutkan inisiatif Day of AI yang menyediakan materi pembelajaran terbuka (open source) yang telah diterjemahkan dan dikontekstualisasikan untuk membantu guru mengajarkan AI.
“Esensinya ini memahami AI, etis dan responsibel, dengan materi yang inklusif untuk semua,” kata Ismunandar.
Sementara itu, Postdoctoral Researcher di Christian Doppler Laboratory for Recommender System, Irini Nalis-Neuner, dari sisi akademis, menekankan pentingnya digital humanism sebagai gerakan mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan dalam penggunaan teknologi AI yang bertanggung jawab, untuk menumbuhkan kembali kepercayaan sosial.
Diskusi ini menyimpulkan bahwa pendidikan dan literasi digital menjadi kunci penting dalam membangun kembali kepercayaan sosial di dunia digital, melalui sinergi antara teknologi, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan. (*/ima)
Sumber : Kemendikdasmen









